Rabu, 25 November 2015
Senin, 17 Agustus 2015
PEMBERONTAKAN ANDI AZIS
Hanya untuk mempermudah pembelajaran ...
Setelah Andi Azis keluar dari sekolah yang didudukinya, ia meneruskan perjalanannya ke Lyceum sampai tahun 1944. Di dalam hatinya, Andi sebenarnya ingin memasuki sekolah kemiliteran di Belanda untuk menjadi seorang prajurit. Akan tetapi niatnya untuk masuk ke dalam sekolah militer tidak terlaksana karena pecahnya Perang Dunia ke II. Karena niat bulatnya untuk masuk kemiliteran, akhirnya Andi Azis masuk ke Koninklijk Leger dan ia ditugaskan untuk masuk ke dalam tim pasukan bawah tanah untuk melawan Tentara Penduduk Jerman (Nazi).
Di daratan Inggris, Andi Azis mengikuti latihan pasukan komando yang bertempat di sebuah kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Setelah sekian lama berlatih di kamp tersebut, akhirnya Andi Azis lulus dari latihan komando tersebut dengan pujian sebagai seorang Prajurit Komando. Seterusnya pada tahun 1945 (tahun di mana Negara Indonesia Merdeka), Andi Azis mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Negara Inggris dan akhirnya ia menjadi Sersan Kadet. Pada Bulan Agustus 1945 Andi Azis ditempatkan di dalam sebuah komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo, dan tempat singgah terakhirnya di Calcutta. Sama seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga seorang Warga Negara Indonesia yang turut serta dalam Perang Dunia ke II di front Barat Eropa.
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, akhirnya Andi Azis diperbolehkan untuk memilih tugas dan mempertimbangkan apakah ia akan masuk ke dalam satuan sekutu yang akan bertugas di Jepang atau memilih untuk masuk ke dalam kelompok yang akan ditugaskan di gugus selatan Negara Indonesia. Setelah di pikir-pikir bahwa sudah 11 tahun ia tidak jumpa dengan orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirnya dengan tegas ia memutuskan untuk ikut satuan yang akan bertugas di gugus selatan Indonesia, dengan harapan ia bisa bersatu kembali bersama orang tuanya di Makassar.
Pada tanggal 19 Januari 1946 kelompoknya mendarat di daratan pulau Jawa (Jakarta), waktu itu Andi Azis menjabat sebagai komandan regu, dan kemudian di tugaskan di Cilinding. Pada tahun 1947-an ia mendapatkan kesempatan libur/cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer. Setelah Andi Azis tahu bahwa dia mendapatkan cuti panjang, maka ia segera kembali lagi ke Jakarta dan mengikuti pendidikan kepolisian di Menteng Pulo. Pada pertengahan tahun 1947, ia dipanggil lagi untuk masuk ke dalam satuan KNIL dan diberi jabatan/pangkat Letnan Dua.
Selanjutnya Andi Azis diangkat sebagai Ajudan Senior Sukowati (Presiden NIT), dan setelah hampir satu setengah tahun ia menjabat sebagai Ajudan, kemudian ia ditugaskan menjadi seorang instruktur pasukan SSOP di Bandung-Cimahi pada tahun 1948. Setelah itu, ia dikirim lagi ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dan 125 anak buahnya (KNIL) yang sudah berpengalaman dan kemudian masuk ke TNI (Tentara Nasional Indonesia). Di dalam barisan TNI (APRIS) kemudian Andi Azis dinaikkan pangkatnya menjadi seorang kapten dan tetap memegang kendali kompi yang dipimpinnya. Kompi tersebut tidak banyak mengalami perubahan anggotanya.
Anggota kompi yang dipimpinya itu bukanlah anggota sembarangan, mereka memiliki kemampuan tempur di atas standar pasukan regular TNI dan Belanda. Pada saat itu di daerah Bandung-Cimahi terdapat banyak prajurit Belanda yang sedang dilatih untuk persiapan agresi militer Belanda II. Di tempat tersebut ada dua macam pasukan khusus Belanda yang sedang dilatih. Di antara pasukan khusus itu adalah pasukan komando (Baret Hijau) dan pasukan penerjun (Baret Merah). Sesuai dengan pengalamannya di front Eropa, kemungkinana Andi Azis melatih para pasukan Komando tersebut dengan kemampuan yang di milikinya.
1. Lata Belakang Pemberontakan Andi Azis
Pemberontakan di bawah naungan Andi Azis ini terjadi di Makassar yang diawali dengan adanya konflik di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Kekacauan yang berlangsung di Makassar ini terjadi karena adanya demonstrasi dari kelompok masyarakat yang anti federal, mereka mendesak NIT supaya segera menggabungkan diri dengan RI. Sementara itu di sisi lain terjadi sebuah konflik dari kelompok yang mendukung terbentuknya Negara Federal. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya kegaduhan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk menjaga keamanan di lingkungan masyarakat, maka pada tanggal 5 April 1950 pemerintah mengutus pasukan TNI sebanyak satu Batalion dari Jawa untuk mengamankan daerah tersebut. Namun kedatangan TNI ke daerah tersebut dinilai mengancam kedudukan kelompok masyaraat pro-federal. Selanjutnya para kelompok masyarakat pro-federal ini bergabung dan membentuk sebuah pasukan “Pasukan Bebas” di bawah komando kapten Andi Azis. Ia menganggap bahwa masalah keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung jawabnya.
Untuk menanggulangi pemberontakan yang di lakukan oleh Andi Azis, pada tanggal 8 April 1950 pemerintah memberikan perintah kepada Andi Azis bahwa setiap 4 x 24 Jam ia harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah ia lakukan. Untuk pasukan yang terlibat dalam pemberontakan tersebut diperintahkan untuk menyerahkan diri dan melepaskan semua tawanan. Pada waktu yang sama, dikirim pasukan yang dipimpin oleh A.E. Kawilarang untuk melakukan operasi militer di Sulawesi Selatan.
Tanggal 15 April 1950, Andi Azis pergi ke Jakarta setelah didesak oleh Sukawati, Presiden dari Negara NIT. Namun karena keterlambatannya untuk melapor, Andi Azis akhirnya ditangkap dan diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sedangkan untuk pasukan TNI yang dipimpin oleh Mayor H. V Worang terus melanjutkan pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950, pasukan ini berhasil menguasai Makassar tanpa adanya perlawanan dari pihak pemberontak.
Pada Tanggal 26 April 1950, anggota ekspedisi yang dipimpin oleh A.E Kawilarang mendarat di daratan Sulawesi Selatan. Keamanan yang tercipta di Sulawesi Selatan-pun tidak berlangsung lama karena keberadaan anggota KL-KNIL yang sedang menunggu peralihan pasukan APRIS keluar dari Makassar. Para anggota KL-KNIL memprovokasi dan memancing emosi yang menimbulkan terjadinya bentrok antara pasukan KL-KNIL dengan pasukan APRIS.
Pertempuran antara pasukan APRIS dengan KL-KNIL berlangsung pada tanggal 5 Agustus 1950. Kota Makassar pada saat itu sedang berada dalam kondisi yang sangat menegangkan karena terjadinya peperangan antara pasukan KL-KNIL dengan APRIS. Pada pertempuran tersebut pasukan APRIS berhasil menaklukan lawan, dan pasukan APRIS-pun melakukan strategi pengepungan terhadap tentara-tentara KNIL tersebut.
Tanggal 8 Agustus 1950, pihak KL-KNIL meminta untuk berunding ketika menyadari bahwa kedudukannya sudah tidak menguntungkan lagi untuk perperang dan melawan serangan dari lawan. Perundingan tersebut akhirnya dilakukan oleh Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI dan Mayor Jendral Scheffelaar dari pihak KL-KNIL. Hasil perundingan kedua belah pihakpun setuju untuk menghentikan baku tembak yang menyebabkan terjadinya kegaduhan di daerah Makassar tersebut, dan dalam waktu dua hari pasukan KNIL harus meninggalkan Makassar.
4. Meninggalnya Kapten Andi Azis
Pada tanggal 30 Januari 1984 seluruh keluarga dari Andi Azis diselimuti oleh duka yang mendalam karena kepergian sang Kapten, Andi Abdoel Azis. Di usianya yang sudah menginjak 61 Tahun, ia meninggal di Rumah Sakit Husada Jakarta karena serangan jantung yang dideritanya. Andi Azis meninggalkan seorang Istri dan jenasahnya diterbangkan dari Jakarta Ke Sulawesi Selatan, lalu dimakamkan di pemakaman keluarga Andi Djuanna Daeng Maliungan yang bertempat di desa Tuwung, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Dalam suasana duka, mantan Presiden RI, BJ. Habibie beserta istrinya Hasri Ainun, mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno dan para anggota perwira TNI turut berduka cita dan hadir dalam acara pemakaman Andi Azis.
5. Hikmah di Balik Pemberontakan Andi Azis
Kapten Andi Abdoel Azis, ia adalah seorang pemberontak yang tidak pernah menyakiti dan membunuh orang untuk kepentingan pribadinya. Ia hanyalah korban propaganda dari Belanda, karena kebutaannya terhadap dunia politik. Andi Azis adalah seorang militer sejati yang mencoba untuk mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia pada masa itu, dan dalam kesehariannya, seorang Andi Azis cukup dipandang dan dihargai oleh masyarakat suku Bugis Makassar yang bertempat tinggal di Tanjung Priok, Jakarta. Disanalah Andi Azis diakui sebagai salah satu sesepuh yang selalu dimintai nasehat oleh para penduduk tentang bagaimana cara menjadikan suku Bugis Makassar supaya tetap dalam keadaan rukun dan sejahtera.
Andi Azis dikenal juga sebagai orang yang murah hati dan suka menolong. Ia selalu berpesan kepada anak-anak angkatnya bahwa “Siapapun boleh dibawa masuk ke dalam rumahnya kecuali 3 jenis manusia yaitu pemabuk, penjudi, dan pemain perempuan.
Seorang Andi Azis patut kita jadikan sebagai bahan pembelajaran bahwa kita selama hidup di dunia ini jangan terlalu percaya sama apa yang orang lain katakan, percayalah kepada hati nurani, jangan terlalu percaya sama orang lain karena orang itu belum tentu bisa mengajak kita ke jalan yang benar dan mungkin malah mengajak kita untuk berbuat salah. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya kita harus berwaspada dan berhati-hati dalam mempercayai orang lain.
(Disarikan dari berbagai sumber)
PEMBERONTAKAN
ANDI AZIS (1)
Andi Aziz
merupakan seorang mantan perwira KNIL. Pada tanggal 30 Maret 1950, ia bersama
dengan pasukan KNIL di bawah komandonya menggabungkan diri ke dalam APRIS di
hadapan Letnan Kolonel Ahmad Junus Mokoginta, Panglima Tentara dan Teritorium
Indonesia Timur.
Pemberontakan
dibawah pimpinan Andi Aziz ini terjadi di Makassar diawali dengan adanya
kekacauan di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Kekacauan tersebut terjadi
karena adanya demonstrasi dari kelompok masyarakat yang anti-federal, mereka
mendesak NIT segera menggabungkan diri dengan RI. Sementara itu terjadi
demonstrasi dari golongan yang mendukung terbentuknya Negara federal. Keadaan
ini menyebabkan muncul kekacauan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk menjaga
keamanan maka pada tanggal 5 April 1950, pemerintah mengirimkan 1 batalion TNI
dari Jawa. Kedatangan pasukan tersebut dipandang mengancam kedudukan kelompok
masyarakat pro-federal. Selanjutnya kelompok pro-federal ini bergabung dan
membentuk “Pasukan Bebas” di bawah pimpinan Kapten Andi Aziz. Ia menganggap
masalah keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung jawabnya.
Pada 5 April 1950,
pasukan Andi Aziz menyerang markas TNI di Makassar dan berhasil menguasainya
bahkan Letkol Mokoginta berhasil ditawan. Bahkan Ir.P.D. Diapari (Perdana
Mentri NIT) mengundurkan diri karena tidak setuju dengan tindakan Andi Aziz dan
diganti Ir. Putuhena yang pro-RI. Tanggal 21 April 1950, Wali Negara NIT, Sukawati
mengumumkan bahwa NIT bersedia bergabung dengan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Untuk mengatasi
pemberontakan tersebut pemerintah pada tanggal 8 April 1950 mengeluarkan
perintah bahwa dalam waktu 4 x 24 Jam Andi Aziz harus melaporkan diri ke
Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kepada pasukan yang terlibat
pemberontakan diperintahkan untuk menyerahkan diri dan semua tawanan
dilepaskan. Pada saat yang sama dikirim pasukan untuk melakukan operasi militer
di Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh A.E. Kawilarang.
Pada tanggal 15 April 1950 Andi Aziz berangkat ke Jakarta setelah
didesak oleh Presiden NIT, Sukawati. Tetapi Andi Aziz terlambat melapor
sehingga ia ditangkap dan diadili sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Mayor H.
V Worang terus melakukan pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada 21 April 1950
pasukan ini berhasil menduduki Makassar tanpa perlawanan dari pasukan
pemberontak.
Tanggal 26 April
1950, pasukan ekspedisi yang dipimpin A.E. Kawilarang mendarat di Sulawesi
Selatan. Keamanan yang tercipta di Sulawesi Selatan tidak berlangsung lama
karena keberadaan pasukan KL-KNIL yang sedang menunggu peralihan pasukan APRIS
keluar dari Makassar. Mereka melakukan provokasi dan memancing bentrokan dengan
pasukan APRIS.
Pertempuran antara
APRIS dengan KL-KNIL terjadi pada 5 Agustus 1950. Kota Makassar pada waktu itu
berada dalam suasana peperangan. APRIS berhasil memukul mundur pasukan lawan.
Pasukan APRIS melakukan pengepungan terhadap tangsi-tangsi KNIL.
8 Agustus 1950,
pihak KL-KNIL meminta untuk berunding ketika menyadari bahwa kedudukannya sudah
sangat kritis.Perundingan dilakukan oleh Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI
dan Mayor Jendral Scheffelaar dari KL-KNIL. Hasilnya kedua belah pihak setuju
untuk dihentikannya tembak menembak dan dalam waktu dua hari pasukan KL-KNIL
harus meninggalkan Makassar.
PEMBERONTAKAN
ANDI AZIS (2)
Andi Azis
adalah seorang mantan Letnan KNIL dan sudah masuk TNI dengan pangkat Kapten,
dia ikut berontak bahkan memimpinnya. Dia memiliki riwayat yang sama uniknya
dengan petualang KNIL lainnya seperti Westerling. Andi Aziz memiliki cerita
hidupnya sendiri. Cerita hidupnya sebelum berontak jauh berbeda dengan orang –
orang Sulawesi Selatan pada umumnya. Tidak heran bila Andi Azis menjalanani
pekerjaan yang jauh berbeda seperti orang-orang Sulawesi Selatan pada umumnya,
sebagai serdadu KNIL. Bisa dipastikan Andi Azis adalah salah satu dari sedikit
orang Bugis yang menjadi serdadu KNIL. Bukan tidak mungkin bila Andi Azis
adalah orang Bugis dengan pangkat tertinggi dalam KNIL. Pemberontakan Andi Azis
terjadi di Sulawesi Selatan (Makassar) pada tanggal 5 April 1950.
Latar belakang
timbulnya pemberontakan Andi Aziz adalah sebagai berikut :
1. Timbulnya
pertentangan pendapat mengenai peleburan Negara bagian Indonesia Timur (NIT) ke
dalam negara RI. Ada pihak yang tetap menginginkan NIT tetap dipertahankan dan
tetap merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS), sedangkan
di satu pihak lagi menginginkan NIT melebur ke negara Republik Indonesia yang
berkedudukan di Yogyakarta.
2. Ada
perasaan curiga di kalangan bekas anggota – anggota KNIL yang disalurkan ke
dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Setikat (APRIS)/TNI. Anggota – anggota
KNIL beranggapan bahwa pemerintah akan menganaktirikannya, sedangkan pada pihak
TNI sendiri ada semacam kecanggungan untuk bekerja sama dengan bekas lawan
mereka selama perang kemerdekaan.
Kedua hal
tersebut mendorong lahirnya pemberontakan bersenjata yang dipimpin oleh bekas
tentara KNIL, Andi Aziz, pada tanggal 5 April 1950. Padahal sebelumnya,
pemerintah telah mengangkat Andi Aziz menjadi Kapten dalam suatu acara
pelantikan penerimaan bekas anggota KNIL ke dalam tubuh APRIS pada tanggal 30
Maret 1950. Namun, karena Kapten Andi Aziz termakan hasutan Mr. Dr. Soumokil
yang menginginkan tetap dipertahankannya Negara Indonesia Timur (NIT), akhirnya
ia mengerahkan anak buahnya untuk menyerag Markas Panglima Territorium. Ia
bersama anak buahnya melucuti senjata TNI yang menjaga daerah tersebut. Di
samping itu, Kapten Andi Abdul Aziz berusaha menghalang – halangi pendaratan
pasukan TNI ke Makassar karena dianggapnya bahwa tanggung jawab Makassar harus
berada di tangan bekas tentara KNIL.
Adapun faktor
yang menyebabkan pemberontakan adalah :
- Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara Indonesia Timur.
- Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
- Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Dengan anggapan
sudah merasa kuat pada tanggal 5 April 1950, setelah menangkap dan menawan
Letnan kolonel Mokoginta, Panglima Territorium Sulawesi, Kapten Andi Aziz
mengeluarkan pernyataan yang ditujukan kepada pemerintah pusat di Jakarta.
Adapun isi pernyataan itu adalah sebagai berikut :
1. Negara
Indonesia Timur harus tetap dipertahankan agar tetap berdiri menjadi bagian
dari RIS.
2. Tanggung
jawab keselamatan daerah NIT agar diserahkan kepada pasukan KNIL yang telah
masuk menjadi anggota APRIS. TNI yang bukan berasal dari KNIL tidak perlu turut
campur.
3. Presiden
Soekarno dan Perdana Menteri Hatta supaya tidak mengizinkan NIT dibubarkan dan
bersatu dengan Republik Indonesia.
Karena tindakan
Andi Azis tersebut maka pemerintah pusat bertindak tegas. Pada tanggal 8 April
1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4 x 24 jam Andi Azis harus
melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,
pasukannya harus dikonsinyasi, senjata-senjata dikembalikan, dan semua tawanan
harus dilepaskan. Kedatangan pasukan pimpinan Worang kemudian disusul oleh
pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang pada tanggal 26
April 1950 dengan kekuatan dua brigade dan satu batalion di antaranya adalah
Brigade Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto. Kapten Andi Azis
dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.
PEMBERONTAKAN
ANDI AZIS (3)
GANGGUAN demi
gangguan bak jamur di musim hujan buat berdirinya Republik Indonesia yang masih
sangat “muda”. Tidak hanya dirongrong DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam
Indonesia), pemberontakan Andi Azis Affair pun ikut mengusik keamanan dan
keutuhan RI pada 5 April 1950.
Hari ini
65 tahun yang lalu, meletus pemberontakan Kapten Andi Abdoel Azis beserta para
pasukan eks-KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) yang sedianya,
sudah sempat dileburkan ke APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).
Ya,
sejatinya pada 30 Maret 1950, Kapten Andi Azis beserta anak buahnya sudah
menggabungkan diri ke dalam APRIS yang diterima Panglima Teritorium Indonesia
Timur, Letkol Achmad Junus Mokoginta.
Tapi
situasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan yang masih sarat hasutan Belanda,
membuat keadaan memanas. Masyarakat di Makassar terpecah, antara yang
pro-federal dan yang antifederal (Republik Indonesia Serikat). Kelompok yang
antifederal mendesak Negara Indonesia Timur (NIT) segera melebur dengan RI.
Kekacauan
pun timbul dan untuk mengamankan situasi, pemerintah mengirim satu batalyon TNI
dari Pulau Jawa pimpinan Mayor Hein Victor Worang. Namun kedatangan mereka
dianggap mengancam kelompok masyarakat pro-federal.
Mereka
pun membentuk pasukan liar yang dikomandoi Kapten Andi Azis. 5 April 1950,
mereka menyerang markas TNI di Makassar dan menawan para perwira, termasuk
Letkol A.J. Mokoginta.
Pemerintah
pusat merespons dengan melayangkan ultimatum pada 8 April 1950, di mana Andi
Azis diwajibkan melapor ke Jakarta, sekaligus membebaskan semua tawanan dalam
tenggat waktu 2x24 jam.
Sementara
itu, pemerintah kembali mengirim pasukan ekspedisi pimpinan Kolonel Alexander
Evert Kawilarang (yang kemudian ikut mendirikan gerakan
Permesta pada 1957). Pasukan ekspedisi ini berkekuatan dua
brigade, di mana salah satunya Brigade Mataram yang dibawahi Letkol Soeharto.
Andi
Azis sendiri akhirnya menyerahkan diri setelah didesak Presiden NIT, Tjokorda
Gde Raka Soekawati. Sayangnya penyerahan diri Andi Azis terlambat, akibat
sempat terpengaruh hasutan Christiaan Robbert Steven Soumokil – yang kemudian
jadi pendiri Republik
Maluku Selatan (RMS).
Akibat
keterlambatan Andi Azis melaporkan diri ke Jakarta itulah, akhirnya dia
ditangkap dan dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta. Dalam
pengakuannya di pengadilan, Andi Azis mengaku buta politik akibat hasutan adu
domba pihak Belanda.
Bagaimanapun
juga, akhirnya Andi Azis dihukum bui selama 14 tahun pada 18 April 1953 dan
mendapat keringanan hukuman jadi delapan tahun, sampai kemudian bebas
bersyarat.
PEMBERONTAKAN
ANDI AZIS (4)
Peristiwa Pemberontakan Andi Azis di Makassar, Latar Belakang,
Tujuan, Dampak - Tokoh utama pada Pemberontakan kali ini adalah Andi Abdoel
Azis. Andi Abdoel Azis atau dikenal dengan sebutan Andi Azis lahir pada tangal
19 September 1924 di Simpangbinal, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Pada
tahun 1930-an Andi Azis dibawa ke Belanda oleh seorang pensiunan Asisten
Residen bangsa Belanda, dan pada tahun 1935 Andi memasuki Leger School dan
lulus dari sekolah tersebut tahun 1938.
Setelah Andi Azis keluar dari sekolah yang didudukinya, ia meneruskan perjalanannya ke Lyceum sampai tahun 1944. Di dalam hatinya, Andi sebenarnya ingin memasuki sekolah kemiliteran di Belanda untuk menjadi seorang prajurit. Akan tetapi niatnya untuk masuk ke dalam sekolah militer tidak terlaksana karena pecahnya Perang Dunia ke II. Karena niat bulatnya untuk masuk kemiliteran, akhirnya Andi Azis masuk ke Koninklijk Leger dan ia ditugaskan untuk masuk ke dalam tim pasukan bawah tanah untuk melawan Tentara Penduduk Jerman (Nazi).
Dari pasukan bawah tanah kemudian ia dipindahkan ke garis
belakang pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam.
Karena semakin sempitnya kedudukan Sekutu di Eropa, maka secara diam-diam Azis
bersama para kelompoknya menyeberang ke daratan Inggris di mana daerah tersebut
adalah sebuah daerah yang paling aman dari serangan tentara Jerman, meskipun
pada tahun 1944 daerah tersebut sering di bom oleh pasukan udara tentara
Jerman.
Di daratan Inggris, Andi Azis mengikuti latihan pasukan komando yang bertempat di sebuah kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Setelah sekian lama berlatih di kamp tersebut, akhirnya Andi Azis lulus dari latihan komando tersebut dengan pujian sebagai seorang Prajurit Komando. Seterusnya pada tahun 1945 (tahun di mana Negara Indonesia Merdeka), Andi Azis mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Negara Inggris dan akhirnya ia menjadi Sersan Kadet. Pada Bulan Agustus 1945 Andi Azis ditempatkan di dalam sebuah komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo, dan tempat singgah terakhirnya di Calcutta. Sama seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga seorang Warga Negara Indonesia yang turut serta dalam Perang Dunia ke II di front Barat Eropa.
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, akhirnya Andi Azis diperbolehkan untuk memilih tugas dan mempertimbangkan apakah ia akan masuk ke dalam satuan sekutu yang akan bertugas di Jepang atau memilih untuk masuk ke dalam kelompok yang akan ditugaskan di gugus selatan Negara Indonesia. Setelah di pikir-pikir bahwa sudah 11 tahun ia tidak jumpa dengan orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirnya dengan tegas ia memutuskan untuk ikut satuan yang akan bertugas di gugus selatan Indonesia, dengan harapan ia bisa bersatu kembali bersama orang tuanya di Makassar.
Pada tanggal 19 Januari 1946 kelompoknya mendarat di daratan pulau Jawa (Jakarta), waktu itu Andi Azis menjabat sebagai komandan regu, dan kemudian di tugaskan di Cilinding. Pada tahun 1947-an ia mendapatkan kesempatan libur/cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer. Setelah Andi Azis tahu bahwa dia mendapatkan cuti panjang, maka ia segera kembali lagi ke Jakarta dan mengikuti pendidikan kepolisian di Menteng Pulo. Pada pertengahan tahun 1947, ia dipanggil lagi untuk masuk ke dalam satuan KNIL dan diberi jabatan/pangkat Letnan Dua.
Selanjutnya Andi Azis diangkat sebagai Ajudan Senior Sukowati (Presiden NIT), dan setelah hampir satu setengah tahun ia menjabat sebagai Ajudan, kemudian ia ditugaskan menjadi seorang instruktur pasukan SSOP di Bandung-Cimahi pada tahun 1948. Setelah itu, ia dikirim lagi ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dan 125 anak buahnya (KNIL) yang sudah berpengalaman dan kemudian masuk ke TNI (Tentara Nasional Indonesia). Di dalam barisan TNI (APRIS) kemudian Andi Azis dinaikkan pangkatnya menjadi seorang kapten dan tetap memegang kendali kompi yang dipimpinnya. Kompi tersebut tidak banyak mengalami perubahan anggotanya.
Anggota kompi yang dipimpinya itu bukanlah anggota sembarangan, mereka memiliki kemampuan tempur di atas standar pasukan regular TNI dan Belanda. Pada saat itu di daerah Bandung-Cimahi terdapat banyak prajurit Belanda yang sedang dilatih untuk persiapan agresi militer Belanda II. Di tempat tersebut ada dua macam pasukan khusus Belanda yang sedang dilatih. Di antara pasukan khusus itu adalah pasukan komando (Baret Hijau) dan pasukan penerjun (Baret Merah). Sesuai dengan pengalamannya di front Eropa, kemungkinana Andi Azis melatih para pasukan Komando tersebut dengan kemampuan yang di milikinya.
1. Lata Belakang Pemberontakan Andi Azis
Pemberontakan di bawah naungan Andi Azis ini terjadi di Makassar yang diawali dengan adanya konflik di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Kekacauan yang berlangsung di Makassar ini terjadi karena adanya demonstrasi dari kelompok masyarakat yang anti federal, mereka mendesak NIT supaya segera menggabungkan diri dengan RI. Sementara itu di sisi lain terjadi sebuah konflik dari kelompok yang mendukung terbentuknya Negara Federal. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya kegaduhan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk menjaga keamanan di lingkungan masyarakat, maka pada tanggal 5 April 1950 pemerintah mengutus pasukan TNI sebanyak satu Batalion dari Jawa untuk mengamankan daerah tersebut. Namun kedatangan TNI ke daerah tersebut dinilai mengancam kedudukan kelompok masyaraat pro-federal. Selanjutnya para kelompok masyarakat pro-federal ini bergabung dan membentuk sebuah pasukan “Pasukan Bebas” di bawah komando kapten Andi Azis. Ia menganggap bahwa masalah keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung jawabnya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa lata belakang pemberontakan
Andi Azis adalah :
- Menuntut bahwa keamanan di Negara Indonesia Timur hanya merupakan tanggung jawab pasukan bekas KNIL saja.
- Menentang campur tangan pasukan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) terhadap konflik di Sulawesi Selatan.
- Mempertahankan berdirinya Negara Indonesia Timur.
2. Dampak Pemberontakan Andi Aziz
Pada tanggal 5 April 1950, anggota pasukan Andi Azis
menyerang markas Tentara Nesional Indonesia (TNI) yang bertempat di Makassar,
dan mereka pun berhasil menguasainya. Bahkan, Letkol Mokoginta berhasil ditawan
oleh pasukan Andi Azis. Akhirnya, Ir.P.D Diapri (Perdana Mentri NIT)
mengundurkan diri karena tidak setuju dengan apa yang sudah dilakukan oleh Andi
Azis dan ia digantikan oleh Ir. Putuhena yang pro-RI. Pada tanggal 21 April
1950, Sukawati yang menjabat sebagai Wali Negara NIT mengumumkan bahwa NIT
bersedia untuk bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
3. Upaya Penumpasan Pemberontakan Andi Aziz
Untuk menanggulangi pemberontakan yang di lakukan oleh Andi Azis, pada tanggal 8 April 1950 pemerintah memberikan perintah kepada Andi Azis bahwa setiap 4 x 24 Jam ia harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah ia lakukan. Untuk pasukan yang terlibat dalam pemberontakan tersebut diperintahkan untuk menyerahkan diri dan melepaskan semua tawanan. Pada waktu yang sama, dikirim pasukan yang dipimpin oleh A.E. Kawilarang untuk melakukan operasi militer di Sulawesi Selatan.
Tanggal 15 April 1950, Andi Azis pergi ke Jakarta setelah didesak oleh Sukawati, Presiden dari Negara NIT. Namun karena keterlambatannya untuk melapor, Andi Azis akhirnya ditangkap dan diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sedangkan untuk pasukan TNI yang dipimpin oleh Mayor H. V Worang terus melanjutkan pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950, pasukan ini berhasil menguasai Makassar tanpa adanya perlawanan dari pihak pemberontak.
Pada Tanggal 26 April 1950, anggota ekspedisi yang dipimpin oleh A.E Kawilarang mendarat di daratan Sulawesi Selatan. Keamanan yang tercipta di Sulawesi Selatan-pun tidak berlangsung lama karena keberadaan anggota KL-KNIL yang sedang menunggu peralihan pasukan APRIS keluar dari Makassar. Para anggota KL-KNIL memprovokasi dan memancing emosi yang menimbulkan terjadinya bentrok antara pasukan KL-KNIL dengan pasukan APRIS.
Pertempuran antara pasukan APRIS dengan KL-KNIL berlangsung pada tanggal 5 Agustus 1950. Kota Makassar pada saat itu sedang berada dalam kondisi yang sangat menegangkan karena terjadinya peperangan antara pasukan KL-KNIL dengan APRIS. Pada pertempuran tersebut pasukan APRIS berhasil menaklukan lawan, dan pasukan APRIS-pun melakukan strategi pengepungan terhadap tentara-tentara KNIL tersebut.
Tanggal 8 Agustus 1950, pihak KL-KNIL meminta untuk berunding ketika menyadari bahwa kedudukannya sudah tidak menguntungkan lagi untuk perperang dan melawan serangan dari lawan. Perundingan tersebut akhirnya dilakukan oleh Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI dan Mayor Jendral Scheffelaar dari pihak KL-KNIL. Hasil perundingan kedua belah pihakpun setuju untuk menghentikan baku tembak yang menyebabkan terjadinya kegaduhan di daerah Makassar tersebut, dan dalam waktu dua hari pasukan KNIL harus meninggalkan Makassar.
4. Meninggalnya Kapten Andi Azis
Pada tanggal 30 Januari 1984 seluruh keluarga dari Andi Azis diselimuti oleh duka yang mendalam karena kepergian sang Kapten, Andi Abdoel Azis. Di usianya yang sudah menginjak 61 Tahun, ia meninggal di Rumah Sakit Husada Jakarta karena serangan jantung yang dideritanya. Andi Azis meninggalkan seorang Istri dan jenasahnya diterbangkan dari Jakarta Ke Sulawesi Selatan, lalu dimakamkan di pemakaman keluarga Andi Djuanna Daeng Maliungan yang bertempat di desa Tuwung, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Dalam suasana duka, mantan Presiden RI, BJ. Habibie beserta istrinya Hasri Ainun, mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno dan para anggota perwira TNI turut berduka cita dan hadir dalam acara pemakaman Andi Azis.
5. Hikmah di Balik Pemberontakan Andi Azis
Kapten Andi Abdoel Azis, ia adalah seorang pemberontak yang tidak pernah menyakiti dan membunuh orang untuk kepentingan pribadinya. Ia hanyalah korban propaganda dari Belanda, karena kebutaannya terhadap dunia politik. Andi Azis adalah seorang militer sejati yang mencoba untuk mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia pada masa itu, dan dalam kesehariannya, seorang Andi Azis cukup dipandang dan dihargai oleh masyarakat suku Bugis Makassar yang bertempat tinggal di Tanjung Priok, Jakarta. Disanalah Andi Azis diakui sebagai salah satu sesepuh yang selalu dimintai nasehat oleh para penduduk tentang bagaimana cara menjadikan suku Bugis Makassar supaya tetap dalam keadaan rukun dan sejahtera.
Andi Azis dikenal juga sebagai orang yang murah hati dan suka menolong. Ia selalu berpesan kepada anak-anak angkatnya bahwa “Siapapun boleh dibawa masuk ke dalam rumahnya kecuali 3 jenis manusia yaitu pemabuk, penjudi, dan pemain perempuan.
Seorang Andi Azis patut kita jadikan sebagai bahan pembelajaran bahwa kita selama hidup di dunia ini jangan terlalu percaya sama apa yang orang lain katakan, percayalah kepada hati nurani, jangan terlalu percaya sama orang lain karena orang itu belum tentu bisa mengajak kita ke jalan yang benar dan mungkin malah mengajak kita untuk berbuat salah. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya kita harus berwaspada dan berhati-hati dalam mempercayai orang lain.
(Disarikan dari berbagai sumber)
Semoga artikel mengenai Pemberontakan Andi Azis
menambah wawasan kita. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan
Cyber.
PEMBRONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN
Kumpulan dari beberapa sumber tentang terjadinya Pembrontakan RMS
Sepeninggal Soumokil, sejak saat itu RMS berdiri di pengasingan di Negeri Belanda. Pengganti Soumokil adalah Johan Manusama. Ia menjadi presiden RMS pada tahun 1966-1992, selanjutnya digantikan oleh Frans Tutuhatunewa sampai tahun 2010 dan kemudian digantikan oleh John Wattilete.
PEMBRONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN (1)
Pemberontakan Republik Maluku Selatan
(RMS) yang dipimpin oleh Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil
(mantan jaksa agung NIT) merupakan sebuah gerakan sparatisme yang bertujuan bukan
hanya ingin memisahkan diri dari NIT melainkan untuk membentuk Negara sendiri
terpisah dari RIS. Soumokil awalnya sudah terlibat dalam pemberontakan Andi
Aziz akan tetapi dia dapat melarikan diri ke Maluku. Soumokil juga dapat
memindahkan pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau dari Makasar ke Ambon.
Pemberontakan Westerling, Andi Aziz,
Soumokil memiliki kesamaan yaitu ketidakpuasan mereka terhadap proses
kembalinya RIS ke Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Pemberontakan yang
ada menggunakan unsur KNIL yang merasa bahwa status mereka tidak pasti setelah
KMB.
Keberhasilan APRIS mengatasi keadaan
membuat para pemuda semakin bersemangat untuk kembali ke NKRI. Akan tetapi
terjadi banyak terror dan intimidasi kepada para pemuda terlebih setelah teror
dibantu oleh anggota polisi yang telah dibantu KNIL bagian dari Korp
Speciale Troepen yang dibentuk oleh Kapten Raymond Westerling di Batujajar
dekat Bandung. Teror tersebut bahkan menyebabkan terjadinya pembunuhan. Benih
sparatisme muncul dari para birokrat pemerintah daerah yang memprovokasi
seperti dengan penggabungan wilayah Ambon ke NKRI mengandung bahaya sehingga
seluruh rakyat Ambon diingatkan akan bahaya tersebut.
Pada 20 April 1950, diajukan mosi tidak
percaya dalam parlemen NIT sehingga kabinet NIT meletakkan jabatannya dan
akhirnya NIT dibubarkan dan bergabung ke dalam wilayah NKRI. Kegagalan pemberontakan
Andi Aziz, menyebabkan berakhirlah pula Negara Indonesia Timur. Tetapi Soumokil
tidak pantang menyerah untuk melepaskan Maluku Tengah dari wilayah NKRI. Bahkan
dalam rapat di Ambon dengan pemuka KNIL dan Ir. Manusama, ia mengusulkan agar
daerah Maluku Selatan dijadikan sebagai daerah merdeka. Jika perlu seluruh
anggota Dewan Maluku Selatan dibunuh. Usul tersebut ditolak, karena anggota
mengusulkan agar yang melakukan proklamasi kemerdekaan Maluku Selatan adalah
Kepala Daerah Maluku Selatan, yaitu J. Manuhutu.
Sebelum diproklamasikannya “RMS”
terlebih dahulu telah dilakukan propaganda pemisahan diri dari NKRI yang
dilakukan oleh gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan KNIL dan Partai
Timur Besar. Sementara menjelang proklamasi RMS, Soumokil telah berhasil
menghimpun kekuatan di lingkungan Maluku Tengah. Sementara itu, orang-orang
yang menyatakan dukungannya terhadap NKRI diancam dan dipenjarakan. Akhirnya
pada tanggal 25 April 1950 di Ambon diproklamasikan Republik Maluku Selatan
(RMS) oleh Mr. Dr. Ch. R.S. Soumokil.
Pemerintah berusaha mengatasi masalah
ini secara damai yaitu dengan mengirimkan misi damai yang dipimpin oleh tokoh
asli Maluku, yaitu dr. Leimena. Namun misi ini ditolak oleh Soumokil. Misi
damai yang dikirim selanjutnya terdiri dari para politikus, pendeta, dokter,
wartawan pun tidak dapat bertemu dengan pengikut Soumokil.
Karena upaya damai mengalami jalan
buntu maka pemerintah melakukan operasi militer untuk menumpas gerakan RMS
yaitu Gerakan Operasi Militer (GOM)III yang dipimpin oleh Kolonel A.E.
Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur. Operasi
berlangsung dari tanggal 14 Juli 1950, berhasil menguasai pos-pos penting di
Pulau Buru, 19 Juli 1950 pasukan APRIS berhasil menguasai Pulau Seram. Pada
tanggal 28 September 1950 Ambon bagian utara berhasil dikuasai. 3 November 1950
benteng Nieuw Victoria berhasil dikuasai. Dengan jatuhnya Ambon maka
perlawanan RMS dapat dipatahkan dan sisa-sisa kekuatan RMS banyak yang
melarikan diri ke Pulau Seram dan dalam beberapa tahun membuat serangkaian
kekacauan.
PEMBRONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN (2)
Peristiwa Pemberontakan Republik Maluku
Selatan (RMS), Latar Belakang, Penyebab, Tujuan, Upaya
Penumpasan, Dampak - Pada tanggal 25 April 1950, Republik Maluku Selatan (RMS)
diproklamasikan oleh sekelompok orang mantan prajurit KNIL dan masyarakat
Pro-Belanda yang di antaranya ialah Dr. Christian Robert Steven Soumokil,
mantan jaksa agung Negara Indonesia Timur. Pemberontakan RMS ini merupakan
suatu gerakan yang tidak hanya ingin memisahkan diri dari Negara Indonesia
Timur melainkan untuk membentuk Negara sendiri yang terpisah dari wilayah RIS.
Pada awalnya, Soumokil, salah seorang mantan jaksa agung NIT ini, juga pernah
terlibat dalam pemberontakan Andi Azis. Akan tetapi, setelah upayanya untuk
melarikan diri, akhirnya dia berhasil meloloskan diri dan pergi ke Maluku.
Selain itu, Soumokil juga dapat memindahkan anggota KNIL dan pasukan Baret Hijau
dari Makasar ke Ambon.
1. Penyebab / Latar Belakang Pemberontakan RMS
Pemberontakan Andi Azis, Westerling, dan Soumokil
memiliki kesamaan tujuan yaitu, mereka tidak puas terhadap proses kembalinya
RIS ke Negara Kesatuan Republik Indoneisa (NKRI). Pemberontakan yang mereka
lakukan mengunakan unsur KNIL yang merasa bahwa status mereka tidak jelas dan
tidak pasti setelah KMB. Keberhasilan anggota APRIS mengatasi keadaan yang
membuat masyarakat semakin bersemangat untuk kembali ke pangkuan NKRI. Namun,
dalam usaha untuk mempersatukan kembali masyarakat ke Negara Kesatuan Republik
Indonesia terjadi beberapa hambatan yang diantaranya terror dan intimidasi yang
di tujukan kepada masyarakat, terlebih setelah teror yang dibantu oleh anggota
Polisi yang telah dibantu dengan pasukan KNIL bagian dari Korp Speciale Troepen
yang dibentuk oleh seorang kapten bernama Raymond Westerling yang bertempat di
Batujajar yang berada di daerah Bandung. Aksi teror yang dilakukannya tersebut
bahkan sampai memakan korban jiwa karena dalam aksi terror tersebut terjadi
pembunuhan dan penganiayaan. Benih Separatisme-pun akhirnya muncul. Para
biokrat pemerintah daerah memprovokasi masayarakat Ambon bahwa penggabungan
wilayah Ambon ke NKRI akan menimbulkan bahaya di kemudian hari sehingga seluruh
masyarakat diingatkan untuk menghindari dan waspada dari ancaman bahaya
tersebut.
Pada tanggal 20
April tahun 1950, diajukannya mosi tidak percaya terhadap parlemen NIT sehingga
mendorong kabinet NIT untuk meletakan jabatannya dan akhirnya kabinet NIT
dibubarkan dan bergabung ke dalam wilayah NKRI. Kegagalan pemberontakan yang di
lakukan oleh Andi Abdoel Azis (Andi Azis) menyebabkan berakhirnya Negara
Indonesia Timur. Akan tetapi Soumokil bersama para anggotanya tidak akan
menyerah untuk melepaskan Maluku Tengah dari wilayah Negara Kesatuan Republik
Indoneisa. Bahkan dalam perundingan yang berlangsung di Ambon dengan pemuka
KNIL beserta Ir. Manusaman, ia mengusulkan supaya daerah Maluku Selatan
dijadikan sebagai daerah yang merdeka, dan bila perlu seluruh anggota dewan
yang berada di daerah Maluku Selatan dibunuh. Namun, usul tersebut ditolak
karena anggota dewan justru mengusulkan supaya yang melakukan proklamasi
kemerdekaan di Maluku Selatan tersebut adalah Kepala Daerah Maluku Selatan,
yaitu J. Manuhutu. Akhirnya, J. Manuhutu terpaksa hadir pada rapat kedua di
bawah ancaman senjata.
2. Tujuan Pemberontakan RMS di Maluku
2. Tujuan Pemberontakan RMS di Maluku
Pemberontakan RMS yang didalangi oleh mantan jaksa agung
NIT, Soumokil bertujuan untuk melepaskan wilayah Maluku dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Sebelum diproklamasikannya Republik Maluku Selatan (RMS),
Gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan pasukan KNIL dan partai Timur
Besar terlebih dahulu melakukan propaganda terhadap Negara Kesatuan Republik
Indonesia untuk memisahkan wilayah Maluku dari Negara Kesatuan RI. Di sisi
lain, dalam menjelang proklamasi RMS, Soumokil telah berhasil mengumpulkan
kekuatan dari masyarakat yang berada di daerah Maluku Tengah. Sementara itu, sekelompok
orang yang menyatakan dukungannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia
diancam dan dimasukkan ke penjara karena dukungannya terhadap NKRI dipandang
buruk oleh Soumokil. Dan pada tanggal 25 April 1950, para anggota RMS
memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS), dengan J.H Manuhutu
sebagai Presiden dan Albert Wairisal sebagai Perdana Menteri. Para menterinya
terdiri atas Mr.Dr.C.R.S Soumokil, D.j. Gasperz, J. Toule, S.J.H Norimarna, J.B
Pattiradjawane, P.W Lokollo, H.F Pieter, A. Nanlohy, Dr.Th. Pattiradjawane,
Ir.J.A. Manusama, dan Z. Pesuwarissa.
Pada tanggal 27 April 1950 Dr.J.P. Nikijuluw ditunjuk
sebagai Wakil Presiden RMS untuk daerah luar negeri dan berkedudukan di Den
Haang, Belanda, dan pada 3 Mei 1950, Soumokil menggantikan Munuhutu sebagai
Presiden Rakyat Maluku Selatan. Pada tanggal 9 Mei, dibentuk sebuah Angkatan
Perang RMS (APRMS) dan Sersan Mayor KNIL, D.J Samson diangkat sebagai panglima
tertinggi di angkatan perang tersebut. Untuk kepala staf-nya, Soumokil mengangkat
sersan mayor Pattiwale, dan anggota staf lainnya terdiri dari Sersan Mayor
Kastanja, Sersan Mayor Aipassa, dan Sersan Mayor Pieter. Untuk sistem
kepangkatannya mengikuti system dari KNIL.
3. Upaya Penumpasan Pemberontakan RMS di Maluku
Dalam upaya penumpasan, pemerintah berusaha untuk
mengatasi masalah ini dengan cara berdamai. Cara yang dilakukan oleh pemerintah
yaitu, dengan mengirim misi perdamaian yang dipimpin oleh seorang tokoh asli
Maluku, yakni Dr. Leimena. Namun, misi yang diajukan tersebut ditolak oleh
Soumokil. Selanjutnya misi perdamaian yang dikirim oleh pemerintah terdiri atas
para pendeta, politikus, dokter, wartawan pun tidak dapat bertemu langsung
dengan pengikut Soumokil.
Karena upaya perdamaian yang diajukan oleh pemerintah
tidak berhasil, akhirnya pemerintah melakukan operasi militer untuk
membersihkan gerakan RMS dengan mengerahkan pasukan Gerakan Operasi Militer
(GOM) III yang dipimpin oleh seorang kolonel bernama A.E Kawilarang, yang
menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur. Setelah
pemerintah membentuk sebuah operasi militer, penumpasan pemberontakan RMS pun
akhirnya dilakukan pada tanggal 14 Juli 1950, dan pada tanggal 15 Juli 1950,
pemerintahan RMS mengumumkan bahwa Negara Republik Maluku Selatan sedang dalam
bahaya. Pada tanggal 28 September, pasukan militer yang diutus untuk menumpas
pemberontakan menyerbu ke daerah Ambon, dan pada tanggal 3 November 1950,
seluruh wilayah Ambon dapat dikuasai termasuk benteng Nieuw Victoria yang
akhirnya juga berhasil dikuasai oleh pasukan militer tersebut.
Dengan jatuhnya pasukan RMS yang berada di daerah Ambon,
maka hal ini membuat perlawanan yang dilakukan oleh pasukan RMS dapat
ditaklukan. Pada tanggal 4 sampai 5 Desember, melalui selat Haruku dan Saparua,
pusat pemerintahan RMS beserta Angkatan Perang RMS berpindah ke Pulau Seram.
Pada tahun 1952, J.H Munhutu yang tadinya menjabat sebagai presiden RMS
tertangkap di pulau Seram, Sementara itu sebagian pimpinan RMS lainnya
melarikan diri ke Negara Belanda. Setelah itu, RMS kemudian mendirikan sebuah
organisasi di Belanda dengan pemerintahan di pengasingan (Government In Exile).
Beberapa tokoh dari pimpinan sipil dan militer RMS yang
tertangkap akhirnya dimajukan ke meja hijau. Pada tanggal 8 Juni 1955, hakim
menjatuhi sanksi hukuman tehadap :
- J.H Munhutu, Presiden RMS di Hukum selama 4 Tahun
- Albert Wairisal, menjabat sebagai Perdana Menteri Dalam Negeri di jatuhi hukuman 5 Tahun
- D.J Gasper, menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri di jatuhi hukuman 4 ½ Tahun
- J.B Pattirajawane, menjabat sebagai Menteri Keuangan di jatuhi hukuman selama 4 ½ Tahun
- G.G.H Apituley, menjabat sebagai Menteri Keuangan di jatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- Ibrahim Oharilla, menjabat sebagai Menteri Pangan di jatuhi hukuman selama 4 ½ Tahun
- J.S.H Norimarna, menjabat sebagai Menteri Kemakmuran di jatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- D.Z Pessuwariza, menjabat sebagai Menteri Penerangan di jatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- Dr. T.A Pattirajawane, menjabat sebagai Menteri Kesehatan di jatuhi hukuman selama 3 Tahun
- F.H Pieters, menjabat sebagai Menteri Perhubungan di jatuhi hukuman selama 4 Tahun
- T. Nussy, menjabat sebagai Kepala Staf Tentara RMS di jatuhi hukuman selama 7 tahun
- D.J Samson, menjabat sebagai Panglima Tertinggi Tentara RMS di jatuhi hukuman selama 10 Tahun
Sementara itu, Dr. Soumokil, pada masa itu ia masih
bertahan di hutan-hutan yang berada di pulau Seram sampai akhirnya ditangkap
pada tanggal 2 Desember 1963. Pada Tahun 1964, Soumokil dimajukan ke meja
hijau. Selama persidangan Soumokil berlangsung, meskipun ia bisa berbahasa
Indonesia, namun pada saat itu ia selalu memakai Bahasa Belanda, sehingga pada
saat persidangan di mulai, hakim mengutus seorang penerjemah untuk membantu
persidangan Soumokil. Akhirnya pada tanggal 24 April 1964, Soumokil akhirnya
dijatuhi hukuman mati. Eksekusi pun dilaksanakan pada tanggal 12 April 1966 dan
berlangsung di Pulau Obi yang berada di wilayah kepulauan Seribu di sebelah
Utara Kota Jakarta.
Sepeninggal Soumokil, sejak saat itu RMS berdiri di pengasingan di Negeri Belanda. Pengganti Soumokil adalah Johan Manusama. Ia menjadi presiden RMS pada tahun 1966-1992, selanjutnya digantikan oleh Frans Tutuhatunewa sampai tahun 2010 dan kemudian digantikan oleh John Wattilete.
4. Dampak dari Pemberontakan RMS di Maluku
Pada Tahun 1978 anggota RMS menyandera kurang lebih 70
warga sipil yang berada di gedung pemerintahan Belanda di Assen-Wesseran. Teror
tersebut juga dilakukan oleh beberapa kelompok yang berada di bawah pimpinan
RMS, seperti kelompok Bunuh Diri di Maluku Selatan. Dan pada tahun 1975
kelompok ini pernah merampas kereta api dan menyandera 38 penumpang kereta api
tersebut.
Pada tahun
2002, pada saat peringatan proklamasi RMS yang ke-15 dilakukan, diadakan acara
pengibaran bendera RMS di Maluku. Akibat dari kejadian ini, 23 orang ditangkap
oleh aparat kepolisian. Setelah penangkapan aktivis tersebut dilakukan, mereka
tidak menerima penangkapan tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan hukum
yang berlaku. Selanjutnya mereka memperadilkan Gubernur Maluku beserta Kepala
Kejaksaan Tinggi Maluku karena melakukan penangkapan dan penahanan
terhadap 15 orang yang diduga sebagai propokator dan pelaksana pengibaran
bendera RMS tersebut. Aksi pengibaran bendera tersebut terus dilakukan, dan
pada tahun 2004, ratusan pendukung RMS mengibarkan bendera RMS di Kudamati.
Akibat dari pengibaran bendera ini, sejumlah aktivis yang berada di bawah
naungan RMS ditangkap dan akibat dari penangkapan tersebut, terjadilah sebuah
konflik antara sejumlah aktivis RMS dengan Kelompok Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI)
Tidak cukup dengan aksi tersebut, Anggota RMS kembali
menunjukkan keberadaannya kepada masyarakat Indonesia. Kali ini mereka tidak
segan-segan untuk meminta pengadilan negeri Den Haang untuk menuntut Presiden
SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan menangkapnya atas kasus Hak Asasi Manusia
(HAM) yang dilakukan terhadap 93 aktivis RMS. Peristiwa paling parah terjadi
pada tahun 2007, dimana pada saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang
menghadiri hari Keluarga Nasional yang berlangsung di Ambon, Maluku. Ironisnya,
pada saat penari Cakalele masuk ke dalam lapangan, mereka tidak
tanggung-tanggung untuk mengibarkan bendera RMS di hadapan presiden SBY.
A.
Latar
Belakang
Bermula ketika Urbanus Pupella, pimpinan PIM mengeluarkan pernyataan tidak
ingin masuk dalam federasi, tetapi mau bergabung dengan Republik Indonesia.
Adanya hal teresebut Mr. Christiaan Soumokil, Jaksa Agung RIS yang
anti-RI melakukan provokasi kepada pasukan-pasukan khusus baret
merah dan hijau asal Ambon ini. Kegiatan provokasi yang dilakukan
oleh Soumokil karena dibiarkan oleh Kolonel Schotborgh, Komandan tentara
Belanda di Makassar. Schotborgh juga menjadi penyebab terjadinya kerusuhan di
Makassar karena membiarkan Soumokil menghasut Kapten Andi Azis melakukan
aksi pemberontakan di Makassar.Ambon menjadi tegang dengan kembalinya
pasukan-pasukan khusus asal Ambon yang sebagaian besar terkena disersi, giat
melakukan konfrontasi dengan barisan PIM dari Pupella yang saling berlawanan.
Konflik di Ambon pun tidak terhindar pada 19 Februari 1950 terjadi perkelahian
antara anggota-anggota PIM yang pro-Republik dengan anti-Republik yang di
dukung oleh pasukan-pasukan khusus ini. Pada 12 Maret 1950, anggota PIM,
di datangi 10 orang anggota polisi yang langsung mengeroyok dan menyiksanya.
Begitu pula pada 17 Maret, anggota PIM didatangi anggota-anggota polisi yang
menyiksanya hingga pingsan. di desa Wakasihu, pimpinan PIM setempat, Ohorella,
dan ibunya juga harus mengalami siksaan tidak manusiawi.
Selain itu, latar belakang penyebab munculnya RMS adalah ketidakpuasan
tokoh pendiri RMS dalam hal ini adalah Mr. Dr. Ch. R. Soumokil, dengan proses
kembali ke negara kesatuan setelah KMB. Gerakan ini menggunakan unsur KNIL yang
merasa tidak pasti terhadap kejelasan status mereka setelah KMB. Karena
ditentukan bahwa dalam waktu enam bulan setelah pengakuan kedaulatan itu,
tentara Belanda harus ditarik dari Indonesia dan KNIL dibubarkan atau
disalurkan ke TNI.
B.
Tujuan
·
Melepaskan
diri dari RIS (Republik Indonesia Serikat)
·
Mendirikan
negara sendiri dengan nama RMS (Republik Maluku Selatan)
C.
Pembentukan
Tanggal 24 April 1950, mantan jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT), Dr
C.R.S. Soumokil bersama rekan-rekannya memproklamasikan berdirinya Republik
Maluku Selatan (RMS), terpisah dari Republik Indonesia dan menetapkan Kota
Ambon sebagai pusat pemerintah mereka.
D.
Pimpinan
Pemimpin pertama RMS dalam pengasingan di Belanda adalah Prof. Johan
Manusama dan kini Frans Tutuhatunewa. Dr. Soumokil mengasingkan diri ke
Pulau Seram. Ia di tangkap di Seram pada 2 desember 1962, dia
dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan milter, dan di laksanakan di kepulauan
Seribu, Jakarta pada 12 april 1966.
E.
Dukungan
Pasukan KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger), terutama bekas
pasukan khusus KST (KorpsSpeciale Troepen) yang secara tegas
menyatakan menolak untuk bergabung dalam Angkatan Perang Republik Indonesia
Serikat (APRIS) sekaligus menolak perintah untuk melalukan demobilisasi
F.
Alasan
Pembenaran Proklamasi RMS
·
Masalah
hubungan daerah dengan RIS, yaitu bahwa “RIS sudah bertindak bertentangan
dengan keputusan-keputusan KMB dan Undang-Undang Dasarnya sendiri”.
·
Hubungan
daerah itu dengan Negara Indonesia Timur, yaitu bahwa “NIT sudah tidak sanggup
mempertahankan kedudukannya sebagai negara bagian selaras dengan
peraturan-peraturan Moektamar Denpasar (pertemuan tentang terbentuknya NIT)
yang masih sah berlaku”.
·
Menurut
mereka, Dewan Maluku Selatan membenarkan tindakan separatis itu.
G.
Struktur
Gerakan
1.
Pemerintahan
RMS di Belanda
Pemerintah darurat RMS terdiri atas kepala negara dan menteri-menteri.
J.Wattilete sebagai Presiden Republik Maluku Selatan (RMS). Kepala negara
mengetuai dewan kementerian. Pada saat ini menteri-menteri yang telah diangkat:
Trientje Magdalena Solisa sebagai menteri Penerangan dan Pembentukan, Drs.
Willem Victor Sopacua sebagai wakil kepala negara & menteri Maluku, dan
Nationbuilding Ir. Edy Rahantoknam sebagai menteri Perkembangan dan Kerjasama
2.
Pemerintah
RMS di Maluku
Dr. Alex Manuputty sebagai Pemimpin dan Koordinator, Simon Saiya sebagai
penyelenggara eksekutif pimpinan pemerintahan RMS di Maluku, Frans Sanmiasa
sebagai Menteri Dalam Negeri merangkap wakil penyelenggara pemerintahan, Markus
Anakotta sebagai sekretaris, dan dilengkapi dengan tiga orang pengendali
lapangan, serta lima orang pelaksana lapangan
H.
Usaha
Pemerintah
Pemerintah Indonesia pada waktu itu (1950) menghadapi pemberontakan
RMS dengan tiga opsi:
·
Opsi
pertama, penyelesaian secara damai dengan pembicaraan-pembicaraan.
Dimulai pada 27 April 1950 dengan mengirim Dr J. Leimena (menteri kesehatan
waktu itu), Ir Putuhena, Pellaupessy dan Dr Rehatta. Rombongan berangkat ke
Ambon dengan korvet Hang Tuah. Merapat pada 1 Mei 1950, sebuah higginboot
mendatangi Hang Tuah dengan Syahbandar Ambon sebagai pengantar surat yang
berisi penolakan. Rombongan akan memberi surat balasan, tetapi higginboot itu
telah diperintahkan untuk segera kembali, tak boleh menunggu. Leimena
menyatakan, “Kami sesalkan bahwa mereka tidak mau menerima dan
berbicara dengan kami yang datang melulu untuk merundingkan hingga soal Maluku dapat diselesaikan dengan baik untuk kepentingan dan keselamatan seluruh nusa dan bangsa. Saya persoonlijk merasa ini sangat menyedihkan” (Jusuf A Puar, 1956).
berbicara dengan kami yang datang melulu untuk merundingkan hingga soal Maluku dapat diselesaikan dengan baik untuk kepentingan dan keselamatan seluruh nusa dan bangsa. Saya persoonlijk merasa ini sangat menyedihkan” (Jusuf A Puar, 1956).
·
Opsi
kedua bila opsi pertama tidak berhasil, dilakukan blokade laut untuk memaksa
mereka bersedia berunding.
Dengan cara membolkade laut, dilakukan pada 18 Mei sampai 14 Juli 1950.
Semua perairan Maluku diawasi dan kapal-kapal pemberontak dihancurkan. Pada 14
Juli diadakan pendaratan di Pulau Buru dan kemudian di pula-pulau lainseperti
Seram, Tanimbar, Kei, dan Aru. Opsi kedua ini pun tidak bisa
memaksa Soumokil bersedia berunding.
·
Bila
opsi pertama dan kedua tidak berhasil, akan dilakukan opsi ketiga yaitu operasi
militer, seperti pendaratan dan lain-lain.
Operasi militer, dilakukan di bawah kepemimpinan Kolonel Kawilarang,
panglima Indonesia Timur saat itu. Operasi militer menumpas pemberontakan RMS
yang terkenal dengan Gerakan Operasi Militer IV atau GOM IV. Komandan pasukan
(brigade) adalah Letkol Slamet Riyadi. Rencananya: pasukan pertama didaratkan
di Hitu, kemudian pasukan kedua di Tulehu, lalu pasukan ketiga di Ambon (RZ
Leirissa, 1978). Mengingat persenjataan, sistem transportasi dan sarana
komunikasi yang belum secanggih sekarang ini, operasi berlangsung lama. Operasi
itu baru bisa mulai dilakukan September, dan baru Oktober APRI menguasai
jazirah Hitu. Akhirnya pada 4 November 1950 benteng Nieuw Victoria dapat
direbut APRI. Sisa-sisa angkatan perang RMS lari ke gunung dan banyak yang
melarikan diri ke pulau-pulau sekitar pulau Ambon. Pimpinan angkatan perang RMS
tertangkap
atau menyerah pada 1952. Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962.
atau menyerah pada 1952. Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962.
I.
Reaksi
terhadap Usaha Pemerintah
Karena adanya penangkapan yang dilakukan oleh pemerintah RI,maka para
pemimpin teras RMS tersebut berinisiatif untuk menghindar sementara ke Belanda.
Kepindahan pimpinan RMS ini mendapatkan bantuan sepenuhnya dari pemerintah
Belanda pada saat itu, dengan adanya kesediaan bantuan dari Pemerintah Belanda
untuk mengangkut sebagian besar rakyat Maluku dengan biaya sepenuhnya dari
Pemerintah Belanda, maka sebagian besar rakyat di Maluku baik yang beragama
Kristen maupun yang beragama Islam dan yang beragama lain memilih dengan
kehendaknya sendiri untuk pindah ke Belanda. Pada waktu itu ada lebih
dari 15.000 rakyat Maluku yang memilih pindah ke Belanda.
Pindahnya sebagian rakyat Maluku ini, oleh Soekarno-Hatta, diisukan sebagai
’PENGUNGSIAN PARA PENDUKUNG RMS’, lalu dengan dalih pemberontakan, pemerintah
RI menangkapi para menteri RMS dan para aktifisnya. Lalu mereka
dipenjarakan dan diadili oleh pengadilan menteri RI, dengan hukuman berat dan
bahkan dieksekusi mati.
Langganan:
Postingan (Atom)



