Senin, 30 Maret 2015
Minggu, 29 Maret 2015
Acara Dharma Santhi Tempek Pondok Bambu Jakarta Timur
Dharma Shanti adalah suatu ajaran untuk mewujudkan
perdamaian diantara sesama umat manusia. Acara dharma shanti ini dapat
dilaksanakan sesuai dengan keperluan situasi dan relevansinya dengan kegiatan
keagamaan dan kemasyarakatan.
Kegiatan dharma shanti untuk saling maaf memaafkan dengan hati dan pikiran yang suci serta ucapan yang tulus iklas. masing-masing pihak secara sadar dan dengan segala keterbukaan serta kejernihan hati menghapuskan kekilafan dan kealpaan diantara sesama kita. Dharma Shanti sebaiknya dilaksanakan dalam menyambut tahun baru Saka (hari Raya Nyepi) pada bulan chaitra setiap setahun sekali, yang dilaksanakan baik di dalam tingkat kelompok kecil (suka duka) maupun tingkat desa atau yang lebih besar lagi dengan melibatkan berbagai unsur dilingkungannya. Secara perorangan hal ini dapat dilakukan pada setiap kesempatan dan dimanapun berada. Berdasarkan hal tersebut, berbagai kelompok umat Hindu terutama yang tinggal di Jakarta sepertinya biasa melakukan kegiatan tersebut. Demikian juga “Tempek Pondok Bambu” sebagai salah satu kelompok masyarakat Hindu mengadakan Dharma Santhi dalam rangka Nyepi dan tahun baru 1937 saka, pada Minggu, 29 Maret 2015 bertempat di kediaman salah seorang anggota yaitu Bapak Wayan Suarya di Komp. Pemda blok G 11 Pondok Kelapa. Melalui Dharma Shanti diharapkan para umat sedharma dapat berkumpul dan saling mengucap maaf, membangun hubungan simakrama yang lebih baik di masa datang dan mengingatkan pentingnya hubungan dengan sesama umat manusia sebagai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana. Melalui Dharma Shanti diharapkan tercipta hubungan yang harmonis antar sesama bhuwana alit dan dengan bhuwana agung sehingga dapat tercipta dunia yang damai dan ajeg.
Kegiatan dharma shanti untuk saling maaf memaafkan dengan hati dan pikiran yang suci serta ucapan yang tulus iklas. masing-masing pihak secara sadar dan dengan segala keterbukaan serta kejernihan hati menghapuskan kekilafan dan kealpaan diantara sesama kita. Dharma Shanti sebaiknya dilaksanakan dalam menyambut tahun baru Saka (hari Raya Nyepi) pada bulan chaitra setiap setahun sekali, yang dilaksanakan baik di dalam tingkat kelompok kecil (suka duka) maupun tingkat desa atau yang lebih besar lagi dengan melibatkan berbagai unsur dilingkungannya. Secara perorangan hal ini dapat dilakukan pada setiap kesempatan dan dimanapun berada. Berdasarkan hal tersebut, berbagai kelompok umat Hindu terutama yang tinggal di Jakarta sepertinya biasa melakukan kegiatan tersebut. Demikian juga “Tempek Pondok Bambu” sebagai salah satu kelompok masyarakat Hindu mengadakan Dharma Santhi dalam rangka Nyepi dan tahun baru 1937 saka, pada Minggu, 29 Maret 2015 bertempat di kediaman salah seorang anggota yaitu Bapak Wayan Suarya di Komp. Pemda blok G 11 Pondok Kelapa. Melalui Dharma Shanti diharapkan para umat sedharma dapat berkumpul dan saling mengucap maaf, membangun hubungan simakrama yang lebih baik di masa datang dan mengingatkan pentingnya hubungan dengan sesama umat manusia sebagai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana. Melalui Dharma Shanti diharapkan tercipta hubungan yang harmonis antar sesama bhuwana alit dan dengan bhuwana agung sehingga dapat tercipta dunia yang damai dan ajeg.
Dalam acara tersebut, seperti tahun sebelumnya diisi Dharma Wacana Tema atau
judul dharma wacananya terkait dengan palaksanaan dan makna Nyepi,
disamping itu juga tentang Huruf Sakti
baik terkait dengan makrokosmos ( alam )
maupun mikrokosmos ( fisik manusia ) . Nyepi bermakna penyucian diri (bhuwana
alit) dan alam semesta (bhuwana agung). Penyucian ini diejawantahkan secara
fisik dalam bentuk caru dan secara psikis dalam bentuk pengendalian diri
(puasa). Berbagai rangkaian upacara dilaksanakan mulai dari melasti yang
bermakna pembersihan diri atas segala kekotoran yang telah didapat selama
setahun terakhir, kemudian dilanjutkan dengan Tawur Agung yang bermakna
pengharmonisan kembali segala macam unsur pembentuk semesta, kemudian
dilanjutkan dengan inti upacara yaitu Tapa Brata Penyepian yang bermakna
pelatihan dan perenungan diri menuju tahun yang baru. Disaat tahun baru yang
biasa kita kenal dimulai dengan hura-hura dan bersenang-senang, tetapi Hindu
justru mengajarkan untuk menyambut tahun baru melalui kontemplasi dan
pengenalan lebih jauh ke dalam diri, karena dari pengenalan diri itulah bermula
suatu upaya untuk mengenal Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Setelah dharmawacana dan
tanyajawab, dilanjutkan dengan salam-salaman sebagai ungkapan ucapan selamat
tahun baru 1937 saka sekaligus sebagai ungkapan
mohon maaf . Berikutnya ramah tamah dan makan siang.
Rabu, 25 Maret 2015
Fungsi Teknologi Informasi dalam Pendidikan
Pengembangan Tekonologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Kenyataan menunjukan TIK telah membawa perubahan
penting dalam perkembangan peradaban dunia terutama ekonomi. Bahkan abad ke-21
diyakini akan menjadi abad baru yang disebut era informasi dengan ciri khas memanfaatkan
peralatan elektronik. Keadaan ini mengakibatkan adanya pergeseran paradigma
strategis pembangunan masyarakat dunia dari era industri menuju informasi.
Dari berbagai peranan TIK
salah satunya yaitu peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi di bidang pendidikan tidak dapat dihindarkan
lagi. Misalnya tidak mungkin lagi mengecek jumlah siswa yang hadir mengikuti
pelajaran dari tahun ke tahun hanya dengan catatan di buku tahunan saja,
demikian juga hasil nilai siswa yang diperoleh selama mengikuti pendidikan hanya
mengandalkan buku nilai guru, leger sekolah atau buku induk sekolah , begTIu
pula pekerjaan sederhana apapun pekerjaan akan menjadi lebih efisien jika
menggunakan komputer. Pendidikan yang menggunakan sarana TIK terutama internet biasa
disebut e-education.
Kecenderungan dunia
pendidikan di Indonesia pada masa yang mendatang hubungannya dengan
perkembangan TIK sebagai berikut :
1. Berkembangnya pendidikan
terbuka dengan cara belajar jarak jauh (distance
learning). Untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu
dimasuka sebagai strategis utama pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi internet secara
maksimal dapat memberikan efektifitas dalam hal waktu, tempat
bahkan meningkatkan kualTIas pendidikan.
2. Terjadinya berbagi sumber
daya (sharing resource) antara lembaga pendidikan dan pelatihan
3. Perpustakaan dan instrumen
pendidikan lainnya misalnya guru dan laboratorium berfungsi sebagai fasilTIator
bukannya sumber informasi.
4. Penggunaan perangkat
informasi interaktif seperti CD-ROM multimedia yang secara bertahap akan
menggantikan fungsi papan tulis.
5. Pelaksanaan pembelajaran sudah mulai berbasis TI yang bukan hanya pada
penggunaan media Powerpoint, tetapi juga penjelajahan di dunia maya atau
internet.
6. Pengolahan
data dan pengolahan nilai dari mulai ulangan harian sampai dengan
seluruh hasil evaluasi.
7. Pengolahan dan pengiriman data-data yang dibutuhkan oleh
lembaga terkait baik dari kementrian, Dinas
Pendidikan, Suku Dinas sampai dengan
Kecamatan.
Manfaat internet bagi
bidang pendidikan di Indonesia antara lain akan mendapatkan akses
keperpustakaan, direktori sekolah, para pakar dapat melalukan perkuliahan
secara online, penyediaan sarana informasi akademik lembaga pendidikan secara
online dapat melaksankan kerjasama dengan lembaga lain melalui internet serta
melakukan marketing dan promosi hasil karya penelTIian secara lebih efisien. Disamping itu kita dapat merancang program artificial intelegence untuk membuat sebuah model
rencana pengajaran.
Perkembangan TIK di bidang
pendidikan memungkinkan mengurangi pemanfaatan kertas-kertas sebagai sarana,
dengan melakukan kegiatan berbasis TI. Diantaranya adalah dengan merancang dan
melakukan evaluasi online seperti yang dicobakan tahun ini melalui Ujian
Nasional Online. Berbagai informasi
dapat dilakukan tanpa kertas, tetapi dengan mengakses internet.
Dengan demikian fungsi /
manfaat TIK dalam pendikan khususnya yang dapat mengembangkan adalah :
1. PPDB berbasis TI, terutama dalam penyebaran
informasinya.
2. Pendataan siswa dengan semua data yang diperlukan baik untuk sekolah maupun
instansi terkait.
3. Pelaksanaan Evaluasi berbasis online
( dapat menekan biaya kertas dan efektif tenaga )
4. Pelaksanaan Try
out untuk semua siswa berbasis online.
5. Penyampaian
berbagai informasi berbasis internet melalui WEBB.
6. Administrasi
pembelajaran berbasis TI
7. Pelaksanaan
pembelajaran berbasis TI
Sedemikian besarnya peranan dan
pentingnya TI dalam dunia
pendidikan yang tidak dapat sepenuhnya
dilaksanakan dan disiapkan oleh semua guru dan semua tenaga administrasi. Karena
ketrampilan dan penguasaan TI membutuhkan ketrampilan khusus dan orang khusus.
Oleh karena itu setiap lembaga membutuhkan
tim pengembang TI, yang dikenal
dengan Tim TI termasuk sekolah.
Jakarta, Maret 2015
Selasa, 24 Maret 2015
Kamis, 08 Januari 2015
SITUS LIYANGAN
beberapa informasi tentang Situs Liyangan
Liyangan diperkirakan pada jaman dahulu
adalah salah satu komplek perdusunan yang terkubur akibat bencana erupsi
Sindoro. Belum di ketahui pada abad berapa Liyangan ini terkubur oleh lahar
dari Gunung Sindoro.
Penemuan Situs Liyangan memperkuat hipotesis bahwa deretan pegunungan Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Dieng menjadi semacam poros berkembangnya kawasan Mataram Kuno. Jawa Tengah berkembang menjadi pusat budaya klasik pada abad 7-10.
Situs desa Liyangan yang ditemukan di tempat penambangan galian pasir di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung diduga kuat merupakan tempat tinggal masyarakat pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Liyangan merupakan situs purbakala yang ditemukan di lereng Gunung Sindoro pada 2009.
Pihaknya juga menduga, Liyangan ini merupakan kawasan Mataram Kuno yang terkubur oleh letusan gunung Sindoro yang terjadi 1.000 tahun lalu. Material yang mengubur kompleks Liyangan ini merupakan aliran piroklastik atau awan panas Sindoro.
Gunung Sindoro yang terlihat tenang dan anggun ternyata menyimpan seribu mistery, Bemmelen seorang peneliti Belanda mengatakan bahwa, pada tahun 1600 - 1617 Sindoro pernah meletus dengan hebatnya dan meluluh-lantakkan desa-desa yang berada di kakinya, hal ini yang diperkirakan telah mengubur Situs Liyangan sedalam 10 M di bawah permukaan tanah. Diperkirakan, situs itu dibangun pada zaman Mataram Hindu pada abad 9 Masehi.
Situs Liyangan berupa perkampungan Mataram Kuno yang berada di ketinggian 1.200 dpl pada lereng gunung Sindoro, penemuan benda arkeologis di Liyangan tidak hanya berupa candi, namun juga terdapat tempat peribadatan, perkampungan dan lahan pertanian kuno. Liyangan adalah sebuah kota yang hilang selama berabad-abad dan baru terkuak ke permukaan akibat penambangan pasir liar pada tahun 2008. Berdasarkan gambaran hasil survei, Liyangan adalah salah satu kompleks situs permu****n, situs ritual dan pertanian.
Penemuan alat-alat kebutuhan sehari-hari menunjukkan kawasan ini dahulu kala memang sebuah tempat hunian. Benda- benda yang banyak ditemukan antara lain pipisan dan gandik yang merupakan alat penggerus obat-obatan pada zaman dahulu. Tak hanya situs perumahan masyarakat, kawasan yang berada di lereng Gunung Sindoro ini diduga juga menjadi area pertanian.
Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, atau pada masa silam merupakan wilayah Mataram Kuno, punya riwayat panjang kebencanaan.
Penemuan Situs Liyangan memperkuat hipotesis bahwa deretan pegunungan Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Dieng menjadi semacam poros berkembangnya kawasan Mataram Kuno. Jawa Tengah berkembang menjadi pusat budaya klasik pada abad 7-10.
Situs desa Liyangan yang ditemukan di tempat penambangan galian pasir di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung diduga kuat merupakan tempat tinggal masyarakat pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Liyangan merupakan situs purbakala yang ditemukan di lereng Gunung Sindoro pada 2009.
Pihaknya juga menduga, Liyangan ini merupakan kawasan Mataram Kuno yang terkubur oleh letusan gunung Sindoro yang terjadi 1.000 tahun lalu. Material yang mengubur kompleks Liyangan ini merupakan aliran piroklastik atau awan panas Sindoro.
Gunung Sindoro yang terlihat tenang dan anggun ternyata menyimpan seribu mistery, Bemmelen seorang peneliti Belanda mengatakan bahwa, pada tahun 1600 - 1617 Sindoro pernah meletus dengan hebatnya dan meluluh-lantakkan desa-desa yang berada di kakinya, hal ini yang diperkirakan telah mengubur Situs Liyangan sedalam 10 M di bawah permukaan tanah. Diperkirakan, situs itu dibangun pada zaman Mataram Hindu pada abad 9 Masehi.
Situs Liyangan berupa perkampungan Mataram Kuno yang berada di ketinggian 1.200 dpl pada lereng gunung Sindoro, penemuan benda arkeologis di Liyangan tidak hanya berupa candi, namun juga terdapat tempat peribadatan, perkampungan dan lahan pertanian kuno. Liyangan adalah sebuah kota yang hilang selama berabad-abad dan baru terkuak ke permukaan akibat penambangan pasir liar pada tahun 2008. Berdasarkan gambaran hasil survei, Liyangan adalah salah satu kompleks situs permu****n, situs ritual dan pertanian.
Penemuan alat-alat kebutuhan sehari-hari menunjukkan kawasan ini dahulu kala memang sebuah tempat hunian. Benda- benda yang banyak ditemukan antara lain pipisan dan gandik yang merupakan alat penggerus obat-obatan pada zaman dahulu. Tak hanya situs perumahan masyarakat, kawasan yang berada di lereng Gunung Sindoro ini diduga juga menjadi area pertanian.
Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, atau pada masa silam merupakan wilayah Mataram Kuno, punya riwayat panjang kebencanaan.
Diperkirakan
di atas Talud ini dahulu ada bangunan besar semacam pendopo.
Liyangan adalah kota yang hilang karena terkubur. Demikian ucapan salah seorang wisatawan dan peneliti kepurbakalaan dari Amerika Serikat yang pernah berkunjung di situs Liyangan, yang ditemukan secara tak sengaja oleh penambang pasir di dusun Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung.
Liyangan pada zaman dahulu diperkirakan merupakan salah satu kompleks perdusunan yang terkubur akibat bencana erupsi Sindoro. Belum diketahui pada abad berapa Liyangan ini terkubur oleh lahar dari Gunung Sindoro. Menurut seorang peneliti dari Belanda bernama Bemmelen (1970), antara tahun 1600-1671 telah terjadi bencana hebat berupa meletusnya Gunung Sindoro sebanyak tiga kali. Jadi kalau benar berita tentang erupsi Gunung Sindoro ini, berarti Liyangan adalah saksi bisu bagaimana Sindoro meluluhlantakkan daerah sekitarnya.Menurut Tambah Pramono, juru pelihara Situs Liyangan, sekitar tahun 2008 beberapa penambang pasir menemukan beberapa temuan, seperti dua candi Ganesha, gerabah, talut (semacam fondasi dari bebatuan), alat penumbuk rempah-rempah dan beberapa yoni.
Lalu pada tahun 2009 ditemukan kembali beberapa bangunan. Berdasarkan gambaran hasil survei, Liyangan adalah salah satu kompleks situs permukiman, situs ritual dan pertanian. Dari data yang ada dan juga beberapa hasil penemuan, Liyangan ini merupakan satu perdusunan pada masa Kerajaan Mataram kuno.
Menurut Trihatmadji, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, penemuan situs Liyangan adalah penemuan yang spektakuler. Sementara itu berdasarkan penelitian, Liyangan dinyatakan sebagai Situs Istimewa di Indonesia. Selain bangunan candi dan juga arca-arca, di Liyangan juga ditemukan rumah panggung dari bahan kayu yang diperkirakan berusia 1.000 tahun.
Kini penggalian dan penelitian masih terus berjalan untuk menguak misteri salah satu peninggalan sejarah yang mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi.
Liyangan adalah kota yang hilang karena terkubur. Demikian ucapan salah seorang wisatawan dan peneliti kepurbakalaan dari Amerika Serikat yang pernah berkunjung di situs Liyangan, yang ditemukan secara tak sengaja oleh penambang pasir di dusun Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung.
Liyangan pada zaman dahulu diperkirakan merupakan salah satu kompleks perdusunan yang terkubur akibat bencana erupsi Sindoro. Belum diketahui pada abad berapa Liyangan ini terkubur oleh lahar dari Gunung Sindoro. Menurut seorang peneliti dari Belanda bernama Bemmelen (1970), antara tahun 1600-1671 telah terjadi bencana hebat berupa meletusnya Gunung Sindoro sebanyak tiga kali. Jadi kalau benar berita tentang erupsi Gunung Sindoro ini, berarti Liyangan adalah saksi bisu bagaimana Sindoro meluluhlantakkan daerah sekitarnya.Menurut Tambah Pramono, juru pelihara Situs Liyangan, sekitar tahun 2008 beberapa penambang pasir menemukan beberapa temuan, seperti dua candi Ganesha, gerabah, talut (semacam fondasi dari bebatuan), alat penumbuk rempah-rempah dan beberapa yoni.
Lalu pada tahun 2009 ditemukan kembali beberapa bangunan. Berdasarkan gambaran hasil survei, Liyangan adalah salah satu kompleks situs permukiman, situs ritual dan pertanian. Dari data yang ada dan juga beberapa hasil penemuan, Liyangan ini merupakan satu perdusunan pada masa Kerajaan Mataram kuno.
Menurut Trihatmadji, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, penemuan situs Liyangan adalah penemuan yang spektakuler. Sementara itu berdasarkan penelitian, Liyangan dinyatakan sebagai Situs Istimewa di Indonesia. Selain bangunan candi dan juga arca-arca, di Liyangan juga ditemukan rumah panggung dari bahan kayu yang diperkirakan berusia 1.000 tahun.
Kini penggalian dan penelitian masih terus berjalan untuk menguak misteri salah satu peninggalan sejarah yang mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi.
SITUS Liyangan yang ditemukan di tempat penambangan galian
golongan C di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
menunjukkan sebuah tempat pemukiman masyarakat pada jaman Mataram Kuno. Hal
tersebut terungkap setelahTim dari Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan
tembikar atau fragmen keramik, talud serta struktur jalan kuno, pada
pertengahan Maret 2013.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Bekti Prijono mengatakan, fragmen-fragmen tersebut ditemukan oleh warga dan kemudian telah disusun sedemikian rupa oleh kelompok warga yang menyebut dirinya sebagai “Peduli Liyangan”. Kini benda-benda tersebut telah diselamatkan dan dalam waktu dekat akan dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi.
Liyangan merupakan situs purbakala yang ditemukan di lereng gunung Sindoro pada tahun 2009. Sejak itu, Balai Arkeologi dan BPCB (Balai Pelestari Cagar Budaya) Jawa Tengah sudah berulang-ulang melakukan eskavasi dan penelitian terhadap temuan-temuan yang ada.
Menurut Bekti, Pemerintah Kabupaten Temanggung telah membebaskan sekitar 5.000 meter persegi tanah Liyangan yang diduga menjadi titik episentrum situs. Berdasarkan penelitian yang selama ini dilakukan, batas-batas imajiner para arkeolog menunjuk luasan area yang mencapai lima sampai enam hektare atau bisa lebih.
Ditambahkan, pada awal ditemukan oleh para penambang pasir, para ahli sudah mencurigai area Liyangan bukan merupakan lokasi candi atau semacamnya. Perkiraan tersebut terbukti setelah dilakukan eskavasi, dan kemudian diketahui bahwa kompleks Liyangan merupakan situs yang sangat mungkin merupakan pemukiman kuno.
Dari awal eskavasi Tim menemukan struktur candi, talud panjang, irigasi, sekam padi yang telah menjadi fosil dan keramik-keramik yang telah berusia 1.000 tahun lebih. Sementara pada penelitian lanjutan tahun 2012, Balai Arkeologi kembali menemukan struktur yang spektakuler yaitu jalan kuno.
“Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi, temuan Situs Liyangan ini termasuk temuan yang spektakuler karena jarang sekali terjadi di Indonesia. Temuan ini mirip kasus Pompey di Eropa dimana sebuah kawasan hilang karena terkubur material gunung yang meletus,” lanjutnya.
Pihaknya juga menduga, Liyangan ini merupakan kawasan Mataram Kuno yang terkubur oleh letusan gunung Sindoro yang terjadi 1.000 tahun lalu.
Ketua Tim Peneliti Situs Liyangan, Sugeng Riyanto mengatakan bahwa Situs Liyangan yang ditemukan di Kecamatan Ngadirejo itu merupakan situs paling lengkap dan istimewa untuk mengungkap kehidupan zaman Mataram Kuno.
Sejauh ini, pihaknya sudah menemukan beberapa situs yang berada di lokasi Liyangan. Diantaranya keramik dari Dinasti Tang (Cina), tulang fauna yang dikonsumsi seperti sapi, logam dan mata tombak, struktur talut, pecahan gerabah, serta konstruksi kayu arang.
“Semua penemuan tersebut akan terus kami teliti,” tandasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Bekti Prijono mengatakan, fragmen-fragmen tersebut ditemukan oleh warga dan kemudian telah disusun sedemikian rupa oleh kelompok warga yang menyebut dirinya sebagai “Peduli Liyangan”. Kini benda-benda tersebut telah diselamatkan dan dalam waktu dekat akan dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi.
Liyangan merupakan situs purbakala yang ditemukan di lereng gunung Sindoro pada tahun 2009. Sejak itu, Balai Arkeologi dan BPCB (Balai Pelestari Cagar Budaya) Jawa Tengah sudah berulang-ulang melakukan eskavasi dan penelitian terhadap temuan-temuan yang ada.
Menurut Bekti, Pemerintah Kabupaten Temanggung telah membebaskan sekitar 5.000 meter persegi tanah Liyangan yang diduga menjadi titik episentrum situs. Berdasarkan penelitian yang selama ini dilakukan, batas-batas imajiner para arkeolog menunjuk luasan area yang mencapai lima sampai enam hektare atau bisa lebih.
Ditambahkan, pada awal ditemukan oleh para penambang pasir, para ahli sudah mencurigai area Liyangan bukan merupakan lokasi candi atau semacamnya. Perkiraan tersebut terbukti setelah dilakukan eskavasi, dan kemudian diketahui bahwa kompleks Liyangan merupakan situs yang sangat mungkin merupakan pemukiman kuno.
Dari awal eskavasi Tim menemukan struktur candi, talud panjang, irigasi, sekam padi yang telah menjadi fosil dan keramik-keramik yang telah berusia 1.000 tahun lebih. Sementara pada penelitian lanjutan tahun 2012, Balai Arkeologi kembali menemukan struktur yang spektakuler yaitu jalan kuno.
“Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi, temuan Situs Liyangan ini termasuk temuan yang spektakuler karena jarang sekali terjadi di Indonesia. Temuan ini mirip kasus Pompey di Eropa dimana sebuah kawasan hilang karena terkubur material gunung yang meletus,” lanjutnya.
Pihaknya juga menduga, Liyangan ini merupakan kawasan Mataram Kuno yang terkubur oleh letusan gunung Sindoro yang terjadi 1.000 tahun lalu.
Ketua Tim Peneliti Situs Liyangan, Sugeng Riyanto mengatakan bahwa Situs Liyangan yang ditemukan di Kecamatan Ngadirejo itu merupakan situs paling lengkap dan istimewa untuk mengungkap kehidupan zaman Mataram Kuno.
Sejauh ini, pihaknya sudah menemukan beberapa situs yang berada di lokasi Liyangan. Diantaranya keramik dari Dinasti Tang (Cina), tulang fauna yang dikonsumsi seperti sapi, logam dan mata tombak, struktur talut, pecahan gerabah, serta konstruksi kayu arang.
“Semua penemuan tersebut akan terus kami teliti,” tandasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)






